BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Jumat, 22 Februari 2013

Sebuah cinta yang tumbuh di Kota Pahlawan


Sebuah cinta yang tumbuh di Kota Pahlawan adalah salah satu karya saya yang pernah di ikutkan dalam kompetisi menulis bersama dwitasari, semoga kalian suka...
saya dengan senang hati menerima kritik dan saran dari kalian yang membaca cerita pendek saya.
Happy reading:) 
--------------------------------------------------------------------------



Beni melihat sebuah foto yang dia ambil dari laci lemari bukunya. Disana terdapat 2 laki laki yang sedang tersenyum tanpa beban. Ya, itu Beni dan sahabatnya Marko.
1 tahun yang lalu....
Teringat percakapan yang tak pernah dilupakan
“Ben, dokter udah mem-vonis aku sewaktu-waktu nyawa aku bisa hilang begitu aja. Penyempitan pernafasan yang udah melekat di tubuh ini semakin mencabik-cabik energi dalam tubuhku. Kamu jangan pernah nangis bro kalau misal aku ngga bisa support kamu lagi di saat ada lomba fotografi, kalau misal aku ngga bisa jadi sainganmu lagi di kompetisi foto. Ngga ada yang bisa melawan maut sekalipun aku berlari dan sembunyi tetap saja ‘ia’ akan mengejarku. Kamu punya tugas, aku titip seseorang yang bisa jadi dia adalah alasan aku bertahan selama ini” kata marko terengah-engah.
“Ko, jangan patah semangat. Aku ngga mau sahabat karib yang selalu bisa jadi beda diantara sahabat sahabat lainnya malah justru menghilang duluan sebelum aku. Kita harus barengan terus bro, tetanggaan dari kecil sampai sekolah bareng, kuliah pun bareng,komunitas fotografer bareng bahkan mati pun kita harus bareng. Selama aku bisa bantu, aku pasti jagain siapapun yang kamu titipin ke aku. Kamu punya pacar ko? Kok ngga cerita ke aku?  Wah nggak asik you ko” ujar beni.
“Hidup ngga bisa milih ben. Kalaupun bisa milih, aku pasti pilih yang ngga berujung kesedihan di mata orang lain. Aku pasti pilih buat bisa barengan terus sama you. Tapi buktinya aku lemah, terbaring ngga berdaya, aku bahkan ngga bisa jagain dia” kata marko.

Masa sekarang.
“Ko, rasanya baru kemarin kita masih kecil masih basketan bareng, rasanya kita baru senang senang bareng gara-gara 1 komunitas. Tapi kenapa sekarang you udah ngga ada di dunia ini. Waktu jahat banget ya ko, waktu mempercepat semuanya. Waktu menghilangkan semuanya. Tapi aku udah ikhlas ko, mulai sekarang titipan you akan ku jaga ko, meskipun aku ngga tau harus kemana buat mencari dan menemukan-nya” ujar beni tersenyum tipis di depan foto.

***

Pertengahan semester 3.
Ada mahasiswa jurusan sosiologi baru pindahan dari malang. Nama-nya desya. Dia duduk di bangku sebelah Beni. Saat perkenalan di depan kelas..............
“Dia cantik, dia humble, dia friendly...................dia” belum sempat melanjutkan perkataannya, Beni dikejutkan dengan uluran tangan.
“Hai, aku desya...” kata desya mengulurkan tangan.
“Hai, aku Beni. Senang berkenalan denganmu”
Setelah perkenalan itu berakhir, akhirnya kelaspun di mulai.... sepanjang dosen menerangkan, desya tenang, memperhatikan tanpa menoleh sedikitpun. “Gadis ini, beda dari yang lain” pikir Beni.
Setelah kelas berakhir. Desya menghampiri Beni yang terduduk di ujung taman kampus.
“Hai beni, boleh aku duduk dan bercerita cerita denganmu?”
“Boleh sya. Ceritakan apapun yang menurutmu ingin kau ceritakan padaku. Anggap saja aku sahabatmu” ujar beni.
“Maaf kalau aku mungkin lancang, tapi menurutku kamu orang yang baik dan bisa dipercaya untuk dijadikan sahabat. Dulu, aku pernah mengenali kota ini walau hanya 1,5 tahun. Kota Surabaya ini walau panas tapi menyimpan banyak sejarah. Memang sejarah negara aku tidak terlalu mengerti, tapi yang aku maksud sejarah itu ya sejarah hidupku. Dulu waktu kelas 1 SMA aku bersekolah di malang. Saat kelas 2 aku pindah kesini sampai kelas 3” ujar desya bercerita.
“Lalu, kamu pindah lagi ke malang ? tidak betah disini karena panas ?” tanya beni.
“Dulu, seseorang yang sangat berharga di hidupku pernah bilang bahwa; Surabaya meskipun sangat panas dan bisa bikin kulit gosong tapi orang yang sudah pernah ke Surabaya pasti merindukannya lagi, makanya aku balik lagi kesini. Aku pindah karena suatu hal terkutuk yang mungkin ngga sekarang aku ceritain ke kamu. Tapi suatu saat nanti aku pasti ceritain kok ke kamu” ujar desya.
Desya ingin menceritakan saat itu juga pada Beni, cuman baginya halaman kampus tempat yang terlalu umum dan terlalu baru baginya.
“Ben aku pulang dulu, sampai ketemu besok. Mungkin besok aku akan mengajak mu pergi keluar dan kau siap kan mendengar ceritaku lagi ?” kata desya
“Aku pasti siap. See you tomorrow”

***

Setibanya dirumah, terbesit di dalam pikiran Beni tentang sahabatnya,marko. Dia masih bertanya-tanya... “jika aku menyukai desya, lalu bagaimana caranya aku menjaga dan membahagiakan perempuan yang di titipkan marko ke aku? Masa iya aku menyimpan pikiran tentang 2 wanita sekaligus. 1 saja sudah rumit bagaimana 2 bisa bisa kesehatan jiwaku terguncang” kata Beni.
“Siapa wanita itu? Siapa wanita yang disembunyikan identitasnya oleh marko. Bagaimana caranya aku bisa menemukannya jika namanya saja aku tidak pernah mendengarnya walau sekali. Tapi yang bikin aku heran dan merinding, marko pernah bilang: ‘kamu ngga usah susah susah mencarinya, kelak waktu yang akan mengantarkannya padamu” ....aneh kan, yang bener aja masa iya tuh orang dateng sendiri, jangan jangan hantu lagi....aaaaaaa” Beni langsung lari keluar kamar.

***

Hari ini beni kuliah pagi. Ada 3 kelas untuknya hari ini. Beni rasanya malas sekali berangkat kuliah karena udara pagi pun sudah terasa menyengat di Surabaya. Jl Ahmad Yani tidak terlalu padat tidak juga terlalu kosong.. sedang-sedang saja. “Tumben, tidak seperti biasanya” batin beni.
Sesampainya di parkiran kampus, Beni mendapat telepon dari Aldo [ketua komunitas]. Aldo bilang kepada Beni, nanti sekitar jam 2 siang akan ada hunting foto bersama tetapi seperti biasa, anggota komunitas disuruh berkumpul di taman apsari [didepan gedung negara Grahadi]. “Bos, saya ngajak satu cewek ya, temen kuliah saya” tanya beni kepada aldo. “Yasudah tidak apa, jangan telat tapi ya bro” kata aldo menyetujui. Beni langsung berjalan menuju kelas dan menyelesaikan 3 kelas.
13.00 wib, selesai semua kelas yang membebani Beni.
“Sya, aku pulang dulu ya. Abis itu kita ke kedai ice cream okay, lalu kamu ikut aku hunting. Kamu suka foto kan?” tawar beni.
“Iya aku suka banget. Okedeh aku tunggu di kantin ya ben”
Beni pun meluncur ke rumah lalu mengambil kamera dan perlengkapannya. Setelah itu kembali ke kampus untuk menjemput desya. Sampai di depan kampus tiba-tiba Beni ‘de javu’ tentang marko, seperti ada bayang bayang mengenai wanita yang di bicarakan marko. Beni langsung keringet dingin dan merinding dan Ia melonjak saat desya menepuk bahunya. Desya tampak bingung dan heran. Akhirnya tanpa berpikir lama, marko mengajak desya menuju zangrandi. [zangrandi adalah kedai ice cream yang dahulu pernah desya datangi bersama marko, ya desya adalah perempuan yang dimaksud oleh marko]. Didepan kedai, desya menatap dengan pandangan kosong matanya berbinar seperti ingin menangis. Beni yang bingung bisa menerawang pandangannya yang kosong dan segera menepuk bahunya hingga desya sadar.
“Ayo masuk sya, terus pesan deh” ujar beni.
Setelah memesan ice cream yang di inginkan, mereka duduk berhadapan.
“Kamu tau nggak sya, banyak orang bilang ice cream disini beda banget dengan ice cream yang dijual di tempat lain, pengunjung yang sudah kesini pasti kesini lagi suatu hari entah itu untuk merasakan ice cream-nya atau untuk sekedar bernostalgia. Ya beli rasa, Ya juga beli nostalgia. Every scoop is memorable. Tapi ada benarnya jugasih, dulu aku pernah kesini sama fanya waktu SMA, fanya itu first love-ku yang meninggal, eh taunya aku kesini lagi walau ngga sama dia tapi sama kamu, tapi sama sama asiknya kok hehe” ujar beni terkekeh.
“Iya benar ben, dulu aku pernah kesini sama marko waktu SMA, tapi sekarang aku malah balik kesini tanpa dia, tapi sama kamu” ujar desya dalam hati.
“Sya, why do you so sad? Beritahu aku apapun itu yang membuatmu bersedih, ceritalah” ujar beni dengan senyum tipisnya.
“Dulu aku punya kekasih, dia beda dari yang lain. Dia bisa membuatku nyaman tidak seperti orang lain. Aku sayang padanya, tapi maut memisahkan aku dengannya. Dia meninggal waktu malam itu dia mau menjemputku saat aku pulang les. Karenaku dia meninggal” ujar desya. Desya pun menangis. Beni tak kuasa menahan sedihnya melihat orang yang disukainya menangis.
“Dia suka fotografi juga kayak kamu, dia pernah ikut komunitas juga, dia selalu suka memotoku diam diam saat kami jalan bersama. Dia...dia istimewa” ujar desya melanjutkan.
“Kekasihmu dulu fotografer? ikut komunitas? Kalau aku boleh tau siapa namanya?” tanya beni.
Desyapun menyodorkan selembar foto.
“Ini fotonya, baca saja tulisan di balik foto itu” kata desya..
“Fafian marko bimantara”..............................”hah? marko? Ini nama nya marko, ini marko sahabat ku.. ini marko..” teriak beni dalam hati. Segeralah di baliknya foto itu. Dan memang benar, lelaki itu marko, sahabat beni.
“Beniiiiii, halo beni. Kamu kenapa?” tanya desya.
“Tidak aku tidak apa” ujar beni berbohong. “Jadi ini, wanita yang sangat disayangi marko, jelaslah desya anaknya berbeda. Jadi kekasih desya adalah marko, iya sya, kamu benar.. marko memang berbeda dari laki-laki lain, aku sangat bangga padanya, dia tidak bajingan seperti cowok pada umumnya, dan aku berusaha menirunya....termasuk caranya membuatmu nyaman ketika dia sedang bersamamu sya” ujar beni dalam hati.
Desyapun menangis. Beni hampir meneteskan air mata.
“Dia meninggal gara-gara aku ben, dia kecelakaan malam itu saat hujan deras. Yang aku tau, marko sangat menyukai hujan. Tetapi kenapa hujan membunuhnya, hujan tak punya hati. Harusnya hujan itu bangga disukai oleh lelaki se baik marko” kata desya dengan jeritan yang semakin mengecil.
“BUKAN KAMU DESYA, BUKAN KAMU YANG MENYEBABKAN MARKO MENINGGAL, tapi marko memang sakit” teriak beni dalam hati.
Jadi selama ini desya tidak pernah tahu jika marko sakit, makanya desya beranggapan marko meninggal karena kecelakaan lalu lintas padahal yang benar itu saat menyetir mobil, sesak nafasnya marko kumat.
“Kontrol omonganmu sya, kamu tidak ada di tempat kejadian kan saat semuanya terjadi , bagaimana mungkin kamu menyalahkan dirimu? Apa karena saat malam itu si marko sedang dalam perjalanan menjemputmu? Jangan salah kan dirimu, aku tidak suka. Ini namanya kecelakaan” ujar beni sedikit menyolot.
“1,5 tahun lebih ben aku masih terjebak di keadaan kayak gini, 1,5 tahun aku masih menyimpan keadaan yang amat berat. 1,5 tahun itu lama kan ben, jangankan buat move on, buat ngelupain aja susahnya seperti mencoba mengingat seseorang yang belum kita kenal” ujar desya dengan isakan yang cukup keras.
“Aku tahu kok perasaanmu tapi jangan pernah jadikan dirimu dan anggap dirimu menjadi orang yang mengalami ini sendirian. Di luar sana banyak yang mengalami lebih tragis dari kamu. Aku juga pernah kehilangan seseorang yang aku sayang, cinta pertamaku dan sahabatku. Cinta pertamaku meninggal karena saat itu dia hendak operasi ginjal kemudian dokter salah suntik dan Ia kejang kejang lalu meninggal. Kamu kira hatiku tidak hancur. Jangankan melihat dia meninggal, melihat dia menangis kesakitan saja rasanya aku sudah ingin menghantamkan kepalaku ke tembok berulangkali. Dan saat sahabatku meninggal, dia sakit, dia mengalami penyempitan saluran pernafasan, dan saat sebelum dia meninggal..dia mengatakan sesuatu yang masih sangat terbesit jelas di telingaku, dia bilang dia sekarang sudah lemah dia sudah terbaring tak berdaya, dia sudah ngga kuat... dan aku pikir, jika aku memaksanya untuk hidup lebih lama, ada berapa banyak rasa sakit yang dia rasakan untuk sekedar menarik nafas dan menghembuskannya, pasti tak terhingga. Makanya aku mengikhlaskannya pergi” ujar beni dengan rintihan kecilnya.
Air mata desya mengalir deras. “aku ngga menyangka kamu yang biasanya bersikap tenang, bisa menangis karena seseorang yang kamu sayangi” ujar desya.
“Dan apa kamu tau, kita mungkin sama-sama punya kesedihan, tapi bedanya aku sama kamu, aku bisa ikhlas karena aku tau hidupku masih panjang dan membutuhkan banyak kebahagiaan untuk hidup, karena aku tau ada kebahagiaan lain walaupun ngga sama mereka, makanya aku ikhlas. Karena aku masih ingin bahagia, makanya aku merelakan semuanya, tidak seperti kamu, kamu terlalu membiarkan hatimu terjebak dalam keadaan sedih dalam waktu yang cukup lama. Apa kamu tau apa yang membuatmu tidak bahagia ? karena kamu tidak mau mengusahakan dirimu untuk bahagia” perkataan yang simpel keluar dari mulut beni. Desya-pun tersadar bahwa ada yang benar dalam perkataan beni.
“Ya ada benarnya juga perkataanmu. Oh ya, kamu pasti tau kan makam peneleh? tepat 2 hari sebelum meninggal, marko janji akan mengantarkan aku kesana dan dia bilang dia ingin mengajakku hunting disana, tapi... 2 hari kemudian tepat di hari yang Ia janjikan untuk mengajakku pergi, dia meninggal..bukan dia yang mengantarkan aku kesana, tapi aku yang mengantarkan dia kesana, melihat dia memasuki liang tanah yang sempit, sampai liang itu ditutupi tanah yang basah...... itu sakit bagiku, tapi aku akan mengikuti apa katamu ben, aku akan mencoba mengikhlaskannya. Marko sampai saat ini belum menepati mengajakku hunting di tempat-tempat asik di Surabaya ben, huhu” ujar desya dengan tampang cemberut.
“Aku akan menepati semua yang dijanjikan marko padamu, aku akan mengajakmu hunting sampai kau benar-benar merasa bahagia. Ayo kita ke taman apsari, sudah ditunggu anak anak” kata beni.
Akhirnya mereka menghapus semua air mata, semua sesi curhat yang membuat orang sekitar mendengarkan pembicaraan mereka yang cukup keras itu terenyuh.
“SAATNYA HUNTING” teriakan kecil desya di jok belakang motor beni membuat beni tersenyum tulus. Kali ini, komunitas ini berkendara bergerumbul layaknya pawai. Tujuan pertama ke kota lama.
Sampai disana........
Beni sibuk menyiapkan berbagai peralatan dan ribet meng-otak atik kameranya. Desya hanya terpaku di depan gedung tua yang besar...dia menganga.
“Wow, amazing......it’s beautiful, aku suka banget” kata desya menghadap ke beni.
Beni hanya mengumbar senyum tipisnya. Lalu mengajak desya sebagai model yang akan di fotonya.
Kota lama adalah kumpulan gedung gedung tua yang besar dan berunsur budaya belanda masih sangat melekat di dalamnya. Dulu di area kota lama ini..pada masa penjajahan belanda, area di sekitar kota lama di jadikan tempat untuk saling melawan antara pasukan belanda dan arek suroboyo[sebutan untuk rakyat Surabaya] tepatnya di jembatan merah....dinamai jembatan merah karena terjadi pertumpahan darah di atas jembatan tersebut.
Setelah kota lama, komunitas ini masih menjelajahi tempat yang masih berbau unsur kuno, tepatnya mereka memilih jalan gula untuk pemotretan. Lagi lagi, beni menjadikan desya sebagai sasaran fotonya.
Jalan gula merupakan kawasan laris yang di gunakan anak anak muda untuk berfoto ria, jalan gula di Surabaya mempunyai daya tariknya sendiri, walau hanya berbentuk gang sempit tapi view disini bagus, terkesan kuno dan masih ada unsur belandanya walau hanya sedikit. Untuk orang yang baru pertama berkunjung ke area kota tua pasti terkesima, untuk yang sudah biasa tetap ada melekat rasa kagum.
4 jam mereka habiskan untuk mengunjungi 2 lokasi hunting yang menawan di kota lama, Surabaya. Sudah pukul 6 malam.. Beni dan Desya beranjak dari Jl gula, Surabaya.
“Kamu mau aku ajak ke satu tempat hunting yang lagi marak banget nih di kunjungi, bisa di bilang tempat ini juga tempat berserjarah, mau ya? Setelah itu kita ke kedai kopi, oke...gimana setuju ?” usul beni.
“Mau, mau banget...”
Lalu, Beni mengajak Desya ke Jl. Tunjungan. Sepanjang jl. Tunjungan, selalu saja ada motor yang parkir karena pengendaranya selalu menyempatkan waktu untuk berfotoria. Beni tidak berhenti di depan Tunjungan City, tapi Beni berhenti tepat di depan Hotel Majapahit, hotel dengan segala kemewahannya dan berbintang lima.
“Sampai deh kita, ayo turun sya, duduk sebentar terus photosession deh buat kamu, khusus hihi. Kamu inget ngga pelajaran sejarah dulu ada materi yang mengulas perobekan bendera belanda di atas hotel yamato?” tanya beni pada desya.
“Ya, aku inget memang kenapa....? nilai sejarahku jelek banget jadi aku sekedar tahu, memangsih ngga banyak hehe” kata desya tersenyum malu.
“Hotel yamato itu ya hotel yang sedang berdiri kokoh di seberangmu ini, dulu hotel ini namanya oranje hotel pada masa penjajahan belanda kemudian diambil alih oleh jepang saat perang dunia ke II yang mencapai pulau jawa..berubah nama menjadi “yamato hoteru” atau “hotel yamato” selama tiga setengah tahun kependudukan jepang, kalau ngga salah tanggal 19 september 1945 orang-orang belanda mengangkat bendera belanda merah,putih, biru di tiang bendera hotel itu tapi orang indonesia menganggap itu sebagai penghinaan terhadap proklamasi kemerdekaan Indonesia makanya kerumunan orang Indonesia marah lalu menurunkan bendera itu dan merobek strip biru bendera belanda mengubahnya menjadi “merah putih” bendera Indonesia sekarang” perjelas beni.
Desya diam tak berkutik. “Oh jadi begitu, selain menjadi kota pahlawan, kota Surabaya juga kaya akan sejarah ya... keren banget, apalagi Tugu Pahlawan yang sempat jadi markas kenpetai pada masa pemerintahan jepang dan juga masih banyak bangunan yang kokoh yang masih dipertahankan walau terkadang banyak yang ngga di rawat. Keren banget....” kata desya terkagum.
“Keren kan? Udah puas belum foto-fotonya? Mau langsung lanjut ke coffee corner?” tanya beni. “Aku sih terserah kamu aja ben” jawab desya dengan senyum bahagia.
Beni menikmati banget perjalanan menuju coffe corner bersama desya. Kota Surabaya identik dengan lampu-lampu warna warni di malam hari, sepanjang perjalanan membuat desya tersenyum bahagia dari balik punggung Beni.
“Surabaya indah ya ben kalau malam, bagus banget........maklum dulu waktu SMA disini aku ngga pernah keluar malam he-he” berbisik kepada Beni.
“Romantis banget Surabaya ini....kamu besok aku ajak gowes ya paginya, kan minggu.. terus siangnya aku ajak hunting, malamnya aku ajak dinner......om frans dan tante dilla ngga masalah kan? Lagian mereka sendiri yang bilang kan percayain kamu sama aku hihi” Beni tersenyum malu.
“Aku mau banget cuman kan aku juga tetep izin sama ayah sama bunda hehe” kata desya.
Sesampainya di coffe corner, yang berada di Surabaya bagian timur. Coffe corner ini buka mulai pukul 4 sore, biasanya menjadi tempat tongkrongan anak muda dan mahasiswa sepulang kuliah, biasanya ini tempat tongkrongan Beni.
“Disini harga kaki lima, kualitas bintang lima..sya wahaha” Ujar beni tertawa terbahak-bahak.
“Kamu bisa aja, wah menu nya... nyam nyam” kata desya dengan muka pengen.
“Kamu boleh pesan apa aja asal jangan sisha ya sya, ngga baik” kata Beni.
“Aku belum pernah denger tuh apa itu sisha, apa sih itu?” tanya penasaran desya.
“Sisha itu sejenis rokok, di hisap juga sih kalau ngga salah tapi itu ada rasa nya, ya mungkin rasa buah atau apa... emang lebih enak shisa tapi justru malah kata orang orang sisha lebih berbahaya melebihi rokok” perjelas Beni.
“Oh yaya , I know. Kamu khawatir yaaaaa, hayoo” goda desya pada beni.
“Kamu, kepo aja apa kepo banget...... hayo mau tau ya aku khawatir apa engga , enaknya khawatir apa engga ya” Beni dengan lagak menggoda.
“Khawatir aja loh, kan setidaknya dengan rasa khawatirmu aku bisa merasa lebih berharga” desya berkata tanpa sadar.
“Iya aku khawatir. Aku selalu menganggap kamu berharga sya, jangan ngerasa gitu ah, aku ngga suka” kata beni dengan muka cemberut
“Ah iya iya ben..cupcup jangan ngambek-lah ya” ujar desya dengan nada merayu.
“Aku ngga pernah ngambek kalau sama kamu, udah di nikmati itu yang kamu pesan..” ujar beni.
“Iya, eh ben aku mau tanya deh.. memang setelah first love kamu meninggal, kamu ngga merasa kesepian? Aku aja setelah marko meninggal, kesepian merajalela deh..” tanya desya.
“Kesepian pasti ada sya, cuman aku ngga pernah membuat diriku terjebak dalam kesepian, apalagi sekarang kehadiran kamu menepiskan segala rasa kesepian sya..” ujar beni
“Ah, ben kamu bisa aja... kamu juga kok ben, sekarang kamu yang bikin aku senang, sekarang kamu bisa jadi pengganti marko walau ngga menggeser posisinya” kata desya.
“Bisa ngga sya kita sama sama saling mengisi kekosongan? Kamu mau ngga sya?” tanya beni.
“Kamu ngga perlu tanya aku udah pasti mau benyoooo” ujar desya menjulurkan lidah.
“Ciyusssss? Miapah? Apaan tuh benyo, sebutan buat aku ya..” ujar beni menjulurkan lidah balik.
“Ciyus, Miamu hihi.... iya hahaha, pulang yuk ben... aku mau istirahat, capek.....fuh, besok ngga usah gowes ya ben... aku juga pernah lagian gowes ke taman bungkul, taman lautan cinta kalau malam..ya, kan? Hehe” ujar desya tersenyum tulus.
“Yaudah, siang aja ya kita jalan ya bawel. Iya benar banget haha, udah yuk pulang”
Akhirnya malam ini menjadi malam yang indah buat mereka. Malam dimana semuanya berjalan indah secara terarah walau belum tentu arahnya kemana.
Bagi beni dan desya ini sebuah mimpi indah yang disaat mereka terbangun, semuanya masih terasa indah, masih membekas dan belum hilang....
“OOH GOD! Thank you for waking me up this morning with a feeling of happiness! SURABAYA.....YOU’RE ROCK! Surabaya, aku ngga pernah sebahagia ini..... isi kotamu membuat hidupku lebih berbeda dari sebelumnya, isi kota membuatku menikmati setiap dari bagiannya bersama orang baru yang berharga kedua setelah Tuhan,keluarga dan marko!” ujar desya di depan cermin setelah bangun tidur.
Memang benar kata orang, hati yang senang pada malam hari terasa lebih ringan saat membuka mata pada pagi hari, semua terasa amat sejuk dan indah.
Desya menyiapkan segala baju,sepatu,topi untuk persiapan hunting dengan dijurui oleh kekasihnya sendiri. Dia menghabiskan waktu berjam-jam untuk menyiapkan semua sementara Beni dirumah masih tertidur pulas bersama mimpi yang memeluknya dari semalam.
“Beni banguuuuuun” teriak desya di telepon saat Beni mengangkatnya.
“Iya ini aku mau mandi makan terus jemput kamu, kamu ngga sabaran banget ya buat hunting.......?” tanya Beni dengan nada masih lemas.
“Kan special day kedua ben! Buruan aku sudah siap nih”
“Buset, rajin banget nih bawel. Iya selesai semua aku langsung kesana, bye” ...tut...tu..tuut. akhirnya telepon pun di tutup. Selang waktu 2 jam lebih 12menit, Beni datang...
“Hai bawel, maaf ya bikin 2 jam menunggu, jalanan lumayan macet di sekitar dolog hehe, langsung berangkat aja yuk keburu kesiangan” ujar beni tersenyum paksa.
Akhirnya tanpa berpikir lama, mereka berdua berangkat ke daerah bundaran dolog yaitu, taman prestasi dan ke daerah rungkut yaitu hutan mangrove.
“OH, aku dulu pernah kesini sama marko waktu kelas 2 SMA, kalau malam bagus banget lampunya warna warni, kaya pelangi......” ujar desya
“Aku tau alasan marko mengajakmu kesini, karena marko suka pelangi kan” ujar Beni dalam hati.
“Disini membosankan , kita lanjut ke mangrove aja yuk, sudah jam 3 sore nih..macet di jalannya doang...” bujuk beni.
Akhirnya mereka menuju hutan mangrove yang alami... untung waktu itu mendung jadi tidak panas, karena mangrove ini terdapat di bagian ujung di mana kota Surabaya kalau siang panas banget....
“Bagus ya...gimana kalau kita foto berdua?” usul desya.
“Boleh.... kamu depan deh, kamu yang pegang slr-nya, aku di belakang.....” ujar beni
 1,2,3 cheseeeeeee....klik, bunyi potret pun terdengar...dan mereka terus melakukannya berulang kali dengan gaya yang terus berubah sehingga tak terasa hari pun mulai sore.
“Ben mau hujan, tapi masih sempat kan kamu mengantarku ke suatu tempat” pinta desya. Beni tak menjawab tetapi mengikuti apa mau desya. Desya mengajak beni ke makam marko. Saat itu suasana sedang hujan lebat. Sampailah mereka di depan makam marko.
“Hai ko, aku datang bersama sahabatmu” ujar desya
“HAHHH? DARIMANA KAMU TAU KALAU AKU.............” ujar beni terkaget.
“Kalau kamu sahabatnya marko? Marko yang cerita, marko juga yang bilang kalau sahabatnya yaitu kamu bakal ngambil kuliah jurusan sosio, dan marko menyarankan agar aku sekampus sama kamu soalnya biar ada yang jagain aku katanya, soalnya dia mau ngambil jurusan ekonomi waktu itu” perjelas desya.
“Jadi selama ini kamu udah tau sya? Maaf ya...aku ngga bilang waktu itu”
“Ngga apalah....Ko, ada Beni disini..... sekarang ada Beni yang jagain aku, aku tau ko kamu sudah meninggal dan ngga tau apa apa, tapi aku cuman ngasih tau meskipun kamu ngga bisa dengar aku berbicara. Selamat tidur pulas ko...disini hujan, aku tau kamu pasti menikmati tapi aku sudah kedinginan, aku pamit dulu ya ko” ujar desya
“Sob, pamit ya.... cewek lo aman sama gue” ujar beni dengan logat jakarta gaulnya.
Desya dan Beni bun berbalik badan untuk berjalan pulang, tetapi perlahan rintihan hujan  berhenti menetes...langit perlahan cerah, dan desya menatap langit... ada pelangi disana.
“Apa ini pertanda marko bahagia ?” –Beni


END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar